Seribu Sungaiku yang Kotor

By helmanovieanty

Sungguh dramatis dan menyedihkan kalau kita melihat kondisi lingkungan Banjarmasin sekarang ini, terutama sungai-sungainya. Padahal sungai sangat penting kegunaannya untuk kehidupan kita, seperti MCK (mandi,cuci, dan kakus). Sungai juga sangat bermanfaat untuk mencari ikan sungai bagi mereka yang bermata pencaharian sebagai nelayan dan lain-lain, bahkan warga Banjarmasin ada yang mendirikan rumah di atas sungai atau sering juga disebut dengan rumah lanting (rumah yang didirikan di atas air, terdiri dari kayu-kayu yang disusun dan diikatkan dengan ban mobil besar supaya kayu-kayu tersebut tetap mengapung diatas air). Segala aktifitas mereka lakukan di lanting.

 Tetapi sangat disayangkan  kesadaran masyarakat yang kurang sekali terhadap kebersihan sungai, bahkan sudah membudaya. Dapat kita lihat dengan mudahnya mereka membuang sampah rumah tangga ke sungai, misalnya sampah-sampah seperti plastik dan bahan-bahan yang tidak dapat melebur, hal ini disebabkan tidak adanya larangan dari instansi-instansi maupun dinas-dinas kebersihan terkait mengeluarkan larangan-larangan untuk tidak membuang sampah ke sungai. Seharusnya ada kegiatan-kegitan yang lakukan untuk menggalakkan pelestarian lingkungan hidup dan meningkatkan pola hidup bersih dan sehat tanpa mencemari lingkungan. Apalagi Banjarmasin terkenal dengan sebutan kota seribu sungai yang terkenal sampai ke seluruh pelosok negeri yang menjadi kebanggan seluruh masyarakat Kalimantan Selatan.

Dan sekarang banyak daerah-daerah yang dilanda banjir, kasihan sekali nasib mereka yang rumahnya terendam oleh air, sehingga aktifitas keseharian mereka menjadi terganggu. Hal ini tidak hanya disebabkan curah hujan yang tinggi, tetapi juga disebabkan olah tangan manusia yang jahil, yang secara tidak sadar telah merusak lingkungannya sendiri misalnya melakukan penggundulan hutan dengan menebang hutan secara ilegal dan menjual kayu-kayunya kepada pihak asing. Pengambilan batu-batu  dan pasir-pasir yang ada disungai  untuk di jual, padahal dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuat pasir-pasir tersebut terkumpul banyak disungai, pengerukkaan tanah di daerah gunung-gunung tanpa melakukan penanaman kembali (reboisasi) pohon-pohon yang sudah ditebang sehingga menyebabkan tanah longsor.

Bahkan yang lebih parah lagi adalah kebiasaan kita yang suka membuang sampah sembarangan  ke sungai. Padahal kalau kita lebih kreatif untuk menjadikan sampah yang kita buang menjadi berguna, misalnya bisa dijadikan untuk pupuk penyubur tanaman, atau humus. Ataupun agar sampah tersebut tidak dibuang  ke sungai, kita bisa membuat lubang di samping rumah sebagai tempat untuk membuang dan kemudian sampah yang tidak mudah melebur tersebut dibakar.

Kita juga bisa melihat pada saat air sedang surut, begitu banyaknya sampah yang menyangkut  bahkan pemandangan seperti ini menjadi sudah terbiasa kita lihat di kota Banjarmasin ini, terlebih juga semakin bertambahnya pemukiman warga karena populasi juga kian bertambah.

Belum lagi masalah limbah industri yang oleh pabrik-pabrik di buang kesungai, padahal limbah ini juga menimbulkan masalah yang lebih serius lagi disamping sampah, karena dapat mematikan ekosistem yang ada disungai, dapat membuat ikan-ikan dan biota-biota yang ada disungai mati. Dan ada juga pengambilan ikan-ikan melalui cara disetrum serta pemboman atau peledakan ikan di sungai oleh para nelayan yang tidak bertanggungjawab terhadap sungai yang hanya ingin mengambil keuntungan tanpa melihat kondisi sungainya. Dan limbah sungai berupa minyak-minyak yang bocor dari kapal yang membuat airnya bercampur minyak dan tercemar.

Masih banyak lagi masalah-masalah yang dapat merusak lingkungan kita terutama daerah sungainya selain  yang saya sebutkan diatas. Kita sebagai warga yang baik harus juga ikut melestarikan  lingkungan dengan tidak egois  terhadap lingkungan hanya demi mengambil keuntungan semata tanpa ada tindak lanjut bagi kelangsungan hidup anak cucu kita nanti ataupun untuk generasi penerus kita.

Mari kita galakan lagi kebudayaan seribu sungai kita yang mulai luntur, dengan ikut melestrikan  dan memelihara lingkungan dan menjadikan seribu sungai sebagai wisata dan aset daerah yang berharga dan bernilai bagi Kalimantan Selatan.    

Satu Tanggapan ke “Seribu Sungaiku yang Kotor”

  1. helmanovieanty Berkata:

    salam kenal…!

Tinggalkan Balasan